JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) memperoleh fasilitas pinjaman dari sederet bank internasional dengan akumulasi nilai setinggi-tingginya mencapai 385 juta dolar Singapura atau setara kisaran Rp5,32 triliun.
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Selasa (30/6/2026), fasilitas kredit tersebut terbagi atas term loan dengan nilai setinggi-tingginya 345 juta dolar Singapura serta fasilitas revolving senilai setinggi-tingginya 40 juta dolar Singapura.
Kredit tersebut dikucurkan kepada jajaran entitas anak usaha TBS, di antaranya Cora Environment Group Pte. Ltd. atau CEG, SBT Invest Pte. Ltd., serta Taonga Holdings Pte. Ltd.
Aktivitas transaksi ini mengikutsertakan sejumlah perbankan internasional. DBS Bank Ltd. mengambil peran selaku Coordinating Bank, Mandated Lead Arranger and Bookrunner, Agent, Common Security Agent, serta Existing Hedge Counterparty.
Di samping DBS, fasilitas tersebut turut melibatkan Bangkok Bank Public Company Limited, Bank of China Limited, E.Sun Commercial Bank, Malayan Banking Berhad atau Maybank, RHB Bank Berhad, Societe Generale, Taishin International Bank Co., Ltd., dan Natixis Singapore Branch selaku jajaran pemberi pinjaman baru.
Pihak manajemen TOBA menguraikan bahwa dana segar dari fasilitas pinjaman itu bakal dialokasikan di antaranya untuk penyelesaian fasilitas kredit terdahulu yang didekap oleh SBT Invest dan Taonga, sekaligus penyediaan modal kerja serta belanja modal bagi SBT Invest beserta anak perusahaan di bawahnya.
Perseroan menyebut transaksi ini dilakukan sebagai bagian dari strategi untuk mengoptimalkan struktur pembiayaan anak perusahaan, termasuk dari sisi biaya pendanaan, jangka waktu pembiayaan, dan fleksibilitas pengelolaan kewajiban keuangan.
Di sudut lain, analis dari Ciptadana Sekuritas Rizal Rafly berpandangan bahwa keterlibatan banyak kreditur global dalam fasilitas pinjaman ini dapat diartikan selaku bentuk validasi atas siasat emiten berkode saham TOBA tersebut dalam memperkokoh portofolio usaha yang berkelanjutan.
Berdasarkan penilaiannya, perbankan internasional pada umumnya menerapkan mekanisme uji kelayakan yang amat ketat, khususnya bagi pengucuran kredit yang berkolerasi dengan aset infrastruktur, transisi energi, serta lini bisnis dengan arus kas jangka panjang.
“Ini bukan sekadar refinancing, tetapi juga sinyal bahwa pemberi pinjaman melihat bisnis baru TOBA, terutama pengelolaan limbah dan energi bersih, memiliki prospek kredit yang layak,” kata Rizal dalam keterangannya.
Kehadiran Natixis bersama Societe Generale selaku lembaga pemberi pinjaman pun menjadi salah satu poin yang menarik untuk diperhatikan. Keterlibatan sepasang institusi finansial asal Prancis tersebut kian memperbesar eksposur perbankan Eropa di dalam struktur pembiayaan TOBA.
Pada pasar Asia, sambungnya, sejumlah perbankan Eropa dikenal cukup progresif dalam penyaluran pembiayaan berbasis ESG, transisi energi, infrastruktur berkelanjutan, hingga ekonomi sirkular. Lewat struktur pembiayaan ini, fasilitas pinjaman tersebut diproyeksikan mampu memperkuat ruang akselerasi TOBA dalam menggulirkan agenda transformasi bisnis.
Sepanjang beberapa tahun ke belakang, TOBA memang terbilang agresif merombak portofolio usaha dari bisnis berbasis batu bara menuju ke arah bisnis berkelanjutan, termasuk di antaranya pengolahan limbah, energi terbarukan, serta ekosistem kendaraan listrik.
TOBA tengah merealisasikan komitmen TBS2030 dengan arah haluan transformasi dari coal-based business menuju company centered on sustainability. Restrukturisasi tersebut mencakup ekspansi waste management, electric vehicles, serta renewable energy.
Pergeseran portofolio usaha tersebut mulai memperlihatkan hasil pada performa keuangan perusahaan. Pada kuartal I/2026, pendapatan TBS mengembang 20,6% secara tahunan menjadi US$86,3 juta. Sektor pengelolaan limbah bertransformasi menjadi penyumbang paling besar dengan torehan omzet US$52,0 juta atau mencakup kisaran 60,2% dari total pendapatan, sementara sektor EV berkontribusi 3,7%. Di sisi lain, sumbangsih pendapatan dari sektor batu bara dilaporkan bertengger di angka 34,2%.